J&T  

Pekerja Sakit Diperintahkan Mundur, JNT Sewenang-wenang Hak Pekerja

JAMBI – Salah satu pegawai JNT di Jambi mendapat perlakuan tidak adil dari atasannya. Karyawan yang menjadi kurir paket JNT tidak diperbolehkan cuti sakit. Bahkan, karyawan tersebut diminta mengundurkan diri jika masih mendapat izin.

Hal ini dialami oleh Valentino yang merupakan kurir JNT cabang Simpang Rimbo, Kota Jambi. Kepada harian tersebut, Minggu pagi (22/19), dia meminta izin kepada atasannya untuk tidak masuk kerja karena sakit. Namun, atasannya tidak diberi izin dan diminta untuk tetap bekerja.

“Saat itu kondisi saya sangat sakit, badan saya tidak tahan. Tubuh yang sangat lemah. Ada juga surat keterangan dokter bahwa saya sakit,” kata Valentino, kemarin (22/12).

Valentino melanjutkan, hari itu dia tidak bisa masuk meski dipaksa oleh atasannya. Akhirnya dia diminta membuat surat pengunduran diri. Dia diundang atasannya untuk melapor jika tidak puas dengan sikap JNT. “Saya mengikuti surat pengunduran diri. Tapi saya tetap diminta untuk bekerja lagi selama 14 hari ke depan. Kalau tidak, ijazah saya ditahan dan saya akan didenda Rp 2 juta,” kata Valentino yang sudah 9 bulan bekerja di JNT.

Sementara itu, Kepala Cabang JNT Simpang Rimbo, Pura mengakui hal itu terjadi pada puncak acara 12.12. Saat itu ada banyak paket dan harus diantar ke konsumen.

“Mereka bekerja sebagai sebuah tim, jika saya memberi ruang untuk satu, yang lain merasa kasihan kepada saya. Jika ini hari liburku, tidak apa-apa. Jika dua hari berturut-turut, lebih banyak iri. Karena ada orang lain yang sakit tapi terpaksa masuk,” kata Pura, saat dihubungi melalui ponselnya, kemarin (22/12).

Pura mengaku banyak paket saat itu. Pihaknya sempat berpesan kepada karyawan di puncak acara untuk tidak mengambil cuti.

“Pekerja semua baik-baik saja. Jika Anda sakit selama sehari, saya tidak akan bisa mengeluh. Tapi karena dua hari berturut-turut,” ujarnya.

“Jangan sampai ada orang lain yang jadi korban,” katanya.

Sedangkan setelah membuat surat pengunduran diri harus tetap bekerja selama 14 hari, jelas Pura. Hal ini diatur dalam kontrak awal perjanjian kerja yang disepakati dengan bea meterai 10.000.

“Bahkan itu, saya hanya memberinya (Valentino) hingga 31 Desember. Artinya sudah berkurang beberapa hari ini,” ujarnya.

“Kalau berhenti mendadak di jalan yang buruk, itu final (baik, red) memang,” katanya.

Menjawab itu, anggota DPRD Kota Jambi dari Fraksi PDIP, Sutiono angkat bicara. Ia mengecam tindakan sewenang-wenang yang dilakukan JNT. Sutiono menilai apa yang dilakukan JNT tidak manusiawi. Ketika seorang pegawai sakit, harus ada izin, apalagi jika sudah ada surat keterangan dokter.

“Sementara itu, dokter mengatakan kepadanya bahwa dia perlu istirahat selama dua hari di sertifikat. Mengapa JNT meminta pekerja yang sakit untuk masuk juga? Ini jelas salah dan melanggar hak asasi manusia. Ini tidak adil,” kata Sutiono.

Sitono mengatakan, gara-gara sikap itu, JNT telah melecehkan karyawannya.

“Karyawan juga memiliki hak yang harus dilindungi. Kurir-kurir ini bekerja selamanya, mengirimkan barang kadang-kadang sampai malam. Bagaimana tanggapan JNT ketika pekerja sakit, mengapa pekerja yang sakit diminta berhenti, tidak mudah berobat,” ujarnya.

Selain itu, ada hal lain yang perlu digarisbawahi. JNT juga menahan sertifikat karyawan.

“Mengapa ada pemegang gelar juga? Kami sangat khawatir tentang ini. Kami berharap pihak-pihak terkait dapat menindaklanjutinya. Ini adalah keputusan sepihak. Negara kita negara hukum,” ujarnya. (Hfz)



Source link